Masa Kehancuran Dinasti Abbasiyah

Melihat beberapa faktor kemunduran dinasti Abbasiyah, sungguh pun semua itu tidak menjadi faktor kemunduran yang berakibat pada kehancurannya, seperti pergolakan-pergolakan yang terjadi ketika Abbasiyah mengalami masa kejayaan,

pergolakan-pergolakan yang terjadi dapat diatasi. Karena faktor-faktor tersebut saling mengait antara satu dengan yang lain, sehingga mau tidak mau membawa dinasti ini kepada kehancurannya.

Faktor yang Mempengaruhi Kehancuran

Faktor Internal

Munculnya pertentangan antara Arab dan non Arab , perselisihan muslim dengan non muslim serta perpecahan di kalangan umat islam sendiri telah membawa kepada situasi kehancuran dalam pemerintahan.

Disamping itu, tampilnya gerakan-gerakan pembangkang yang berkedok keagamaan seperti orang-orang Qaramithah Hasyasyin dan pihak-pihak lain turut memporak-porandakan kesatuan akidah maupun nilai-nilai islam yang bersih sepanjang masa.

Selain itu munculnya dinasti-dinasti kecil yang benar-benar menikmati independensi dari daulat Abbasiyah seperti Thulun dan Ikhsyid dari daulat Abbasiyah seperti di Persia dan seberang sungai Oxus.

Dengan adanya independensi dinasti-dinasti tersebut perekonomian pusat menurun karena mereka tidak lagi membayar upeti kepada pemerintah pusat. Sementara itu di sisi lain meningkatnya ketergantungan pada tentara bayaran.

Pemakaian tentara bayaran berarti pengeluaran uang makin bertambah banyak, karena kesetiaan mereka hanya di dapat dengan uang. Adapun faktor terpenting yang membawa kehancurannya adalah khalifah-khalifah Abbasiyah melalaikan salah satu sendi islam yaitu jihad.

Mereka terjerat dalam berbagai masalah internal sebab setelah Al-Mumtasin tidak tercatat dalam sejarah adanya peperangan.

Faktor Eksternal

Sebelum kedatangan Hulagu dibagian barat wilayah dinasti Abbasiyah telah terjadi perang salib. Selama terjadi perang salib di Baghdad sedang terjadi keresahan. Ketika kerajaan mereka sedang terancam perang salib, mereka tidak menyadari datangnya bahaya serangan-serangan bangsa Mongol.

Bangsa Mongol yang biasa hidup nomaden, suka berperang merampok dan berburu mudah bagi mereka untuk menaklukan negara-negara jajahannya. Dinasti Mongol didirikan oleh Jengiskhan. Pada zamannya nbangsa Mongol menghancurkan wilayah-wilayah islam.

Pada tahun 1212 M, orang-orang Mongol berhasil menguasai Peking kemudian mereka mengalihkan serangannya ke arah barat. Satu demi satu kerajaan islam ditaklukannya. Transoxania dan Khawarism jatuh dalam kekuasaan Mongol pada tahun 1219-1220 M.

Kerajaan Ghazna jatuh dan dikalahkan pada tahun 1221 M lalu mereka meneruskan serangannya ke Eropa dan Rusia. Kemudian tahun 656 H/1258 M Hulagu CUCU Jengiskhan meneyerang dan memperoak-porandakan Baghdad. Sebelumnya mereka menyerang Persia.

Kemudian ia berhasil pula menghancurkan Hasyasyin di Alamut, kondisi Baghdad saat itu porak-poranda  dimana-mana tercium bau yang menyengat. Ketika Khalifah Al-Mumtasim keluar ditemani tigaratus pendukungnya ia menyerah tanpa syarat kepada Hulagu.

Kemudian Hulagu memerintahkan agar mereka semua dibunuh akibatnya berakhirlah kekuasaan daulah Abbasiyyah. Jika daulat ini mampu mempersatukan atau mengkoordinasikan serta menegakan prinsip jihad abadi tentu daulah ini akan mampu mengusir tentara Mongol, namun mereka tidak melakukannya.

Jadi demikian kehancuran dinasti Abbasityah yang dipicu oleh beberapa faktor internal dan eksternal. Walaupun pada saat itu dinasti ini pernah mencapai pada masa kejayaanya dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Bahkan dinasti ini sempat dijuluki sebagai dinasi terpanjang dan tertinggi kala itu bias hancur begitu saja. Kita sebagai umat islam dapat mengambil hikmah apa saja yang bias diterapkan dalam kehidupan kita sebagai umat muslim.

Kita wajib mencontoh jihad yang dilakukan khilafah-khilafah terdahulu yang dikomparasikan dengan keadaan masa sekarang. Dengan semangat juang yang tinggi dan selalu berjalan di jalan yang benar.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.